Kelenteng
Kwan Sing Bio didominasi warna merah, kuning dan hijau yang terang pada
bangunannya dengan banyak hiasan berbentuk Naga,lampion dan lilin berbagai
ukuran. Dan tentu saja bau Dupa dan Hio yang senantiasa menguar dari dalam
kelenteng. Kelenteng Kwan Sing Bio berada di Jalan Raya R.E. Martadinata ,
Tuban – Jawa Timur. Nikmatnya Oleh-oleh Khas Tuban Jenazah Utuh Dimakamkan 35
Tahun Di Tuban Cukup mudah menuju ke kelenteng ini karena lokasinya yang berada
di tepi jalan raya utama jalur Pantai Utara Jawa dengan banyak angkutan umum
yang melintasinya.
Sebelum memasuki kelenteng Kwan Sing Bio, sebuah gerbang dengan bentuk khasnya dan ada replika hewan Kepiting akan menyambut pengunjung kelenteng. Di Indonesia, hiasan kepiting itu konon cuma ada di Klenteng ini.
Hiasan kepiting yang seolah menjadi Ikon Kelenteng Kwan Sing Bio itu
ternyata berkaitan dengan sejarah awal kelenteng yang diperkirakan dibangun
pada abad 18 ini. Karena dulunya , lokasi dibangunnya kelenteng ini adalah
daerah tambak dengan banyak hewan kepiting hidup dan berkembang biak di
sekitarnya.
Tak hanya itu, hewan kepiting itu ternyata juga bermakna simbolis karena dipercaya dapat memberi perlindungan pada kelenteng dan umatnya dari pengaruh unsur-unsur jahat sekaligus mengusirnya. Makna-makna simbolis tentang nilai-nilai kehidupan itu juga terdapat pada banyaknya hiasan satwa pada beberapa bagian bangunan kelenteng baik yang berupa relief, patung, lukisan dan sebagainya.
Tak hanya itu, hewan kepiting itu ternyata juga bermakna simbolis karena dipercaya dapat memberi perlindungan pada kelenteng dan umatnya dari pengaruh unsur-unsur jahat sekaligus mengusirnya. Makna-makna simbolis tentang nilai-nilai kehidupan itu juga terdapat pada banyaknya hiasan satwa pada beberapa bagian bangunan kelenteng baik yang berupa relief, patung, lukisan dan sebagainya.
Sekitar 5 meter tepat di belakang gerbang, bangunan utama kelenteng Kwan Sing Bio berdiri dengan anggunnya. Di bagian depan kelenteng dan di dalam bangunan utama pada sebelah kanan dan kiri pintu masuk terdapat sepasang patung singa dengan posisi duduk . Patung singa ini juga bermakna simbolis sebagai kekuatan dan penjaga kelenteng.
Di bagian atas pintu masuk kelenteng terdapat lukisan kelelawar. Satwa
pemakan buah-buahan ini bermakna membawa keuntungan, kebahagiaan dan panjang
umur. Sedangkan di bagian atap kelenteng di bagian depan terdapat hiasan
sepasang naga ( Lung ) dengan bola apinya. Hewan pada mitologi Tionghoa ini dipercaya
melambangkan kesuksesan, kekuatan dan kemakmuran.
Bangunan utama Kelenteng Kwan Sing Bio terbagi menjadi 3 bagian Ruangan
dengan banyak petugas kelenteng yang hilir mudik membantu keperluan umat
kelenteng. Ruangan yang pertama di bagian depan untuk membakar dupa dan hio
dengan terdapat banyak lilin berbagai ukuran.
Kompleks kelenteng Kwan Sing Bio memiliki luas areal sekitar 4-5 hektar
dengan berbagai bangunan dan fungsi, yang menjadikan kelenteng ini dikenal
sebagai kelenteng yang paling besar dan luas di Asia Tenggara. Di bagian barat
kelenteng terdapat ruangan untuk pembaca jiam sie, kantor, berlatih barongsai
dan liang-liong,dan stand souvenir.
Sedangkan di bagian timur
terdapat ruangan dengan altar untuk persembahyangan dan di dalamnya terdapat
pajangan seekor harimau yang telah diawetkan. Ada juga panggung mini untuk
pementasan kesenian wayang potehi.
Di belakang bangunan utama
kelenteng terdapat taman yang disebut Taman Dua Naga karena disana terdapat
patung sepasang naga. Yang menarik, di belakang taman itu terdapat bangunan
Sembilan Gada Suci untuk menyimpan bendera dan panji-panji, barongsai, dan
liang-liong khusus untuk persembahyangan dan pemujaan Dewa Kwan Kong. Di dalam
ruangan yang berkaca ini juga terdapat patung Dewa Kwan Kong yang berukuran
cukup besar. Sementara di bagian luarnya pada sebelah kanan-kiri dan depan
terdapat patung-patung para tokoh pembesar dalam sejarah dan legenda Tiongkok .
Keduanya adalah
ritual untuk membuang sial bagi orang yang sedang bermasalah pada kehidupannya
atau yang merasa shio-nya jiong ( bertentangan) dengan tahun baru Imlek 2563
yang bershio naga air. Kedua ritual itu dilakukan dengan membeli seekor atau
beberapa ekor Penyu atau kura-kura dan menuliskan doa-doa dan nama yang
bersangkutan pada tempurung (karapas) penyu atau kura-kura dalam huruf Cina.
Bisa juga dengan melepaskan Burung-burung kecil. Ritual dilakukan di halaman
kelenteng oleh petugas pembaca Jiam sie. Setelah dibacakan doa oleh pembaca
jiam sie, Penyu, kura-kura dan burung-burung itu kemudian dilepaskan terbang ke
alam bebas. Lepasnya penyu, kura-kura atau burung itu ke alam bebas diharapkan
lepas pula permasalahan dan kesulitan yang dialami oleh yang bersangkutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar